ALKITAB
1. KEASLIAN NASKAH
ALKITAB
https://www.facebook.com/share/v/1JsjNPH6YG/
Akun FB: Yohanes
Bambang Mulyano (Pendeta GKI ?)
Keaslian Alkitab
didukung oleh bukti manuskrip yang sangat kuat. Codex Vaticanus dan Codex
Sinaiticus dari abad ke-4 merupakan saksi awal Perjanjian Baru yang menunjukkan
teks yang konsisten.
Ada 5 tema yang dibahas dalam manuskrip-mauskrip itu, yakni
- Keilahian Yesus
- Trinitas
- Inaransi (Kelahiran Yesus)
- Kematian dan kebangkitan Yesus
- Keselamatan
Selain itu, terdapat
lebih dari 5.800 manuskrip Yunani, sekitar 10.000 manuskrip Latin, dan ribuan
manuskrip dalam bahasa kuno seperti Siria dan Koptik, sehingga teks Alkitab
dapat diuji secara silang. Penemuan naskah-naskah Laut Mati di Qumran juga
membuktikan bahwa teks Perjanjian Lama yang kita miliki sekarang selaras dengan
naskah Ibrani yang jauh lebih tua.
Jika dibandingkan
dengan karya-karya filsuf Yunani seperti Plato, Aristoteles, atau Homer, yang
umumnya hanya didukung oleh puluhan manuskrip dengan jarak ratusan hingga lebih
dari seribu tahun dari naskah aslinya, tradisi manuskrip Alkitab jauh lebih
melimpah dan lebih dekat secara kronologis.
Karena itu, secara
historis dan akademik, teks Alkitab justru termasuk yang paling terjaga di
antara karya-karya kuno, sehingga tuduhan pemalsuan tidak memiliki dasar yang
kuat.
JPS, 30 Jan. 2026.
***********
2. SEPTUAGINTA dan TUDUHAN "TAHRIB"
https://www.facebook.com/share/v/17YrY58MVW/
Akun FB: Yohanes Bambang Mulyano ( (Pendeta GKI ?)
SEPTUAGINTA dan TUDUHAN "TAHRIB"
Septuaginta (LXX = 70) adalah terjemahan teks Ibrani
pra-Masoretik ke dalam Yunani Koine (abad ke-3 s.M.) oleh 70 sarjana Yahudi,
dan memuat Deuterokanonika. Ini membuktikan bahwa kanon PL pada masa
pra-Kristen belum tertutup dan bentuk teksnya majemuk, bukan satu versi
tunggal. Bahasa sehari-hari dunia Yahudi diaspora waktu itu adalah Yunani,
bukan Ibrani. Ibrani berfungsi liturgis, sementara Yunani adalah bahasa publik.
Demikian pula Alkitab yang dibaca di sinagoge diaspora adalah Septuaginta,
bukan teks Ibrani. Data menunjukkan
sekitar 70% kutipan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru mengikuti
Septuaginta.
Karena LXX telah tersebar luas lintas dunia Yahudi dan
Helenistik, dikutip langsung oleh penulis Perjanjian Baru, dan dikonfirmasi
oleh Gulungan Laut Mati, maka klaim pemalsuan Alkitab runtuh secara historis.
Tidak ada otoritas tunggal, waktu, atau mekanisme yang memungkinkan pengubahan
serentak terhadap teks yang sudah publik, terdistribusi, dan saling mengoreksi.
Jadi jelas teks Alkitab terbukti otentik dan menjelaskan dengan valid mengapa
kelak Perjanjian Baru menggunakan bahasa Yunani.
#dialog
#gereja
#iman
#katolik
#renunganhariankristen Lihat Lebih Sedikit
JPS, 4 Feb. 2026.
*******
AJARAN KRISTEN
1, DOSA AGNOSIA (2)
Akun FB: Yohanes
Bambang Mulyano (
https://www.facebook.com/share/v/1HgFDdTDpd/
Dosa agnosia adalah dosa yang menolak pengenalan akan Allah
yang hidup dan benar. Penolakan ini bukan terjadi karena ketiadaan pengetahuan
agama atau minimnya keterlibatan keagamaan. Justru sebaliknya, mereka yang
terjerat agnosia sering kali gemar mempelajari agama, fasih berbicara tentang
Tuhan, dan aktif dalam berbagai ritual serta aktivitas religius. Sehari-hari
mereka akrab dengan keagamaan dengan membaca Alkitab, berpuasa, dan berdoa tapi
hatinya tetap sempit dan dangkal.
Masalahnya terletak pada jenis “pengetahuan” yang dimiliki.
Pengetahuan tentang Allah tidak berhenti pada informasi, konsep, atau
penguasaan doktrin. Tanpa karya Roh Kudus, pengetahuan itu tetap berada pada
tingkat gnōsis, yaitu pengetahuan intelektual yang tidak mengubah orientasi hidup.
Akibatnya, Allah dikenal sebagai objek kajian, bukan sebagai Pribadi yang
diimani dan ditaati.
Pengenalan sejati akan Allah menuntut karunia Roh Kudus yang
membawa manusia melampaui gnōsis menuju epignōsis, yaitu pengenalan yang
personal, relasional, dan transformatif. Di dalam epignōsis, iman kepada
Kristus tidak lagi menjadi wacana atau aktivitas religius. Iman sejati
seharusnya merupakan perjumpaan yang membentuk ketaatan, kerendahan hati, dan
kehidupan yang berpusat pada Kristus.